WISATA ALAM DI KAWASAN KONSERVASI KEMBALI DIBUKA, 101 TN/TWA/SM SIAP DIKUNJUNGI

WISATA ALAM DI KAWASAN KONSERVASI KEMBALI DIBUKA, 101 TN/TWA/SM SIAP DIKUNJUNGI

17 Apr, 2021

Papandayan_SOP_drpn_2021.JPG

Sudah mencapai 16 bulan sejak COVID19 resmi masuk ke Indonesia, berbagai langkah dalam mencegah penyebaran dilakukan oleh berbagai pihak khususnya pemerintah. Dampak pencegahan penularan COVID19 tersebut antara lain adalah pembatasan sosial, pengurangan mobilitas yang juga berdampak nyata pada kegiatan wisata alam di kawasan konservasi.

Juni 2020, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 memberi izin kepada sektor pariwisata alam untuk dibuka kembali secara bertahap di tengah upaya adaptasi kebiasaan baru akibat pandemi Covid-19. Namun, ijin tersebut hanya diberikan kepada kawasan pariwisata alam yang berada di 270 kabupaten atau kota yang berada di zona hijau dan kuning.

Jembatan SituGunung_Jaga Jarak_drpn_2020.JPG

Melalui Keputusan Menteri LHK No. SK.261/MENLHK/KSDAE/KSA.0/6/2020 tanggal 23 Juni 2020 tentang Kebijakan Reaktivasi Secara Bertahap Di Kawasan Taman Nasional (TN), Taman Wisata Alam (TWA), dan Suaka Margasatwa (SM) dalam kondisi Transisi Akhir COVID-19 (New Normal). Kementerian LHK mengambil langkah pembukaan ini sebagai boosting kegiatan pemulihan ekosistem dan ekowisata berkelanjutan (Sustainable Eco-Tourism). Saat ini, melalui Keputusan Direktur Jenderal KSDAE telah terdapat 101 TN/TWA/SM yang diperbolehkan membuka kunjungan wisata dengan penerapan protokol yang terbagi menjadi Reaktivasi Tahap I sd. Tahap IV.

Proses pembukaan bertahap ini dilakukan dengan tahapan koordinasi berbagai pihak, penetapan dan penerapan standart operasional kunjungan, penetapan kuota kunjungan wisata (maksimal 50% dari Daya Dukung Daya Tampung), penyiapan sarana dan fasilitas pendukung protokol kesehatan di areal wisata, hingga penetapan libur kunjungan. Tahapan ini ditempuh untuk memberikan rasa aman dan sehat bagi pengunjung.

as1.jpg

Sumber : Direktorat PJLHK (2020)

Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK) telah mendata kunjungan wisata alam di TN/TWA/SM mengalami penurunan jumlah pengunjung wisata alam di kawasan konservasi pada tahun 2020 sebesar 64% bila dibandingkan dengan tahun 2019. Namun, disisi lain hingga 16 April 2021, pembukaan kunjungan wisata alam di TN/TWA/SM dilaporkan terdapat keterlibatan masyarakat sedikitnya sebanyak 4.891 unit jasa/orang kerja.

Keterlibatan masyarakat ini diharapkan dapat menjadi pemulihan ekonomi khususnya pelaku jasa wisata masyarakat. Sehingga, tujuan reaktivasi sebagai pemulihan ekosistem dan ekowisata berkelanjutan dapat tercapai.

Pertimbangan lain dari pembukaan kawasan wisata alam adalah dapat memberikan manfaat bagi kesehatan dalam menghadapi pandemi ini. Wisata alam di TN/TWA/SM tidak jarang dinilai sebagai aktivitas wisata yang memanfaatkan koneksi alam sebagai sarana menjaga kesehatan dan pemulihan. Tentunya, hal ini menjadi alternatif tujuan dibandingkan wisata lain di masa adaptasi kebiasaan baru.

Pandangan bahwa wisata alam di TN/TWA/SM menyehatkan dan memulihkan menjadikan 101 TN/TWA/SM sebagai target kunjungan wisata. Namun, pelaksanaan aktifitas wisata alam pada masa adaptasi kebiasaan bari ini tetap harus mematuhi dan melaksanakan protokol kesehatan yang ditentukan oleh pemerintah sekitar dan pengelola tempat wisata.

Dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat, beberapa tempat wisata alam di kawasan konservasi sudah bisa dikunjungi wisatawan, khususnya pada wisata alam di 101 kawasan konservasi yang telah dibuka. Untuk menyambut dibukanya kembali beberapa tempat wisata alam di kawasan konservasi, sudahkan anda merencanakannya dengan matang pada perjalanan wisata alam anda selanjutnya? Atau masih bingung tujuan perjalanan wisata alam anda?

Berikut daftar 101 TN/TWA/SM yang telah dibuka untuk wisata alam

  • Reaktivasi Tahap I di 29 kawasan yaitu TN Seribu, TN Gn Halimun Salak, TN Gunung Rinjani, TN Gn Gede Pangrango, TN Gn Ciremai, TN Gn Merapi, TN Gn Merbabu, TN Bromo Tengger Semeru, TN Meru Betiri, TN Alas Purwo, TN Bali Barat, TN Kutai, TN Gn Rinjani, TN Tambora, TN Komodo, TN Kelimutu, TN Manupeu Tanadaru, TN Laiwangi Wanggameti, TWA Angke Kapuk, TWA Papandayan, TWA Kawah Gn Tangkuban Perathu, TWA Cimanggu, TWA Telogo Warno Pengilon, TWA Grojogan Sewu, TWA Guci, TWA Kawah Ijen Merapi Ungup-ungup, TWA Pulau Sangalaki, TWA Menipo. TWA 17 Pulau Riung, TWA Lejja.

  • Reaktivasi Tahap II di 17 kawasan yaitu TN Gunung Leuser, TNL Karimunjawa, TN Lore Lindu, TN Ujung Kulon, TN Baluran, TN Wakatobi, TWA Sibolangit, TWA Punti Kayu, TWA Gunung Tunak. TWA Linggarjati, TWA Gunung Guntur, TWA Telaga Bodas, TWA Pulau Sangiang, TWA Gunung Pancar, TWA Talaga Warna, TWA Pantai Panjang Pulai Baai, TWA Bukit Kaba.

  • Reaktivasi Tahap III di 26 kawasan yaitu TN Bantimurung Bulusaraung, TN Taka Bonerate, TN Kepulauan Togean, TN Bunaken, TN Gunung Palung, TWA Batu Putih, TWA Batu Angus, TWA Gunung Ambang, TWA Suranadi, TWA Kerandangan, TWA Madapangga, SM Pulau Rambut, SM Manembo-Nembo, SM Nantu dan SM Karakelang, TN Kerinci Seblat, TWA Camplong, TWA Ruteng, TWAL Gugus Pulau Teluk Maumere, TWAL Teluk Lasolo, TWA Mangolo, TWAL Padamarang, TWA Semongkat, TWA Pulau Satonda dan SM Tanjung Peropa.

  • Reaktivasi Tahap IV di 29 kawasan yaitu Taman Nasional Betung Kerihun Taman Nasional Danau Sentarum, Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Taman Nasional Boganani Nani Wartabone, Taman Nasional Gunung Maras, Taman Nasional Bukit Dua Belas, Taman Nasional Sebangau, Taman Nasional Way Kambas, Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Taman Wisata Alam Danau Rawa Taliwang (BKSDA NTB), Taman Wisata Alam Laut Pulau Moyo (BKSDA NTB) , Taman Wisata Alam Tanjung Tampa (BKSDA NTB), Taman Wisata Alam Panelokan (BKSDA Bali) , Taman Wisata Alam Gunung Batur Bukit Payang (BKSDA Bali) , Taman Wisata Alam Sangeh (BKSDA Bali), Taman Wisata Alam Danau Buyan Danau Tamblingan (BKSDA Bali) , Taman Wisata Alam Seblat (BKSDA Bengkulu), Taman Wisata Alam Bukit Kelam (BKSDA Kalimantan Barat), Taman Wisata Alam Jering Menduyung (BKSDA Sumatera Selatan), Taman Wisata Alam Gunung Permisan (BKSDA Sumatera Selatan), Taman Wisata Alam Mega Mendung (BKSDA Sumatera Barat), Taman Wisata Alam Marapi (BKSDA Sumatera Barat), Taman Wisata Alam Singgalang Tandikat (BKSDA Sumatera Barat), Taman Wisata Alam Sago Malintang (BKSDA Sumatera Barat), Taman Wisata Alam Bukit Tangkiling (BKSDA Kalimantan Tengah), Taman Wisata Alam Tanjung Keluang (BKSDA Kalimantan Tengah), Taman Wisata Alam Sumber Semen (BKSDA Jawa Tengah)

Kerinduan berwisata alam di kawasan konservasi bisa kita wujudkan dengan wisata alam berkualitas yaitu wisata alam yang patuh pada aturan, wisata alam yang berdampak baik pada alam maupun masyarakat dan wisata alam yang berdampak pada pengetahuan wisatawan.

Nandang Prihadi (2021) menyampaikan bahwa melalui Wisata Alam berkualitas (Quality Eco Tourism) mari kita wujudkan Kelestarian hutan dan peningkatan sosial ekonomi masyarakat sekitar Kawasan Konservasi.

Mari bersama mewujudkan Quality Eco Tourism di Kawasan Konservasi.


Text dan Foto: DewiRPN

Sumber Kutipan : https://jasling.net/berita-dan-artikel/berita/72-destinasi-wisata-alam-dibuka-kembali

Posted in Berita on Apr 17, 2021




Berita Lainnya


Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem

Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi

Jakarta: Gedung Pusat Kehutanan Manggala Wanabakti Blok 1 Lantai 15, Jl. Jend. Gatot Subroto Senayan
Bogor: Jl. Ir. H. Djuanda No.15 Bogor
Phone: Jakarta (021) 5790 3072, Bogor (0251) 8324 013
Email: dit.pjlhk@gmail.com

Copyright 2020 © Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi. All Rights Reserved.